Cara Baru Baca-Tulis Dengan Dadu Dan Pohon Literasi

Belajar membaca dan menulis sebagai upaya membudayakan literasi dengan memakai media pembelajaran berupa dadu dan pohon literasi.

Guru dituntut bisa membuat model pembelajaran yang diminati siswa, sehingga mereka termotivasi menimba ilmu dan betah mengikuti pelajaran. Model pembelajaran yang dianggap kurang efektif, menyerupai metode ceramah diganti dengan metode lain. Karena penggunaan metode ceramah siswa hanya mendengarkan tanpa terlibat langsung. Siswa hanya mendapatkan informasi yang disampaikan guru.

Dalam mengajarkan siswa menyayangi budaya literasi, siswa harus diajak aktif berkreasi biar bahagia dalam pembelajaran tersebut. Selain membudayakan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran, bisa dengan model lain. Tujuannya biar siswa menyayangi budaya membaca dan menulis. Banyak cara yang sanggup dilakukan oleh guru biar tujuan tersebut tercapai.

Seperti apa yang dilakukan guru kelas VI SDN Rejosalam I Jombang, Jawa Timur. Yulia Nuryani Candra, S.Pd. Senin itu, siswa kelas 6 dibagi menjadi 5 kelompok secara heterogen. Dengan setiap kelompok berisi 3-4 orang. Kelas 6 hari itu akan berguru membaca dan menulis sebagai upaya membudayakan literasi dengan memakai media pembelajaran berupa dadu dan pohon literasi.

“Harapan dari pembelajaran ini untuk mengenalkan literasi. Melatih siswa membuat pertanyaan dengan 5W+1H. Serta menyampaikan bahwa menulis itu gampang dan menyenangkan,” terang Bu Yulia panggilan bersahabat guru kelas VI tersebut dilansir dari harianbhirawa.net.

Langkah-Langkah Menggunakan Media Dadu dan Pohon Literasi

  • Sebagai acara awal, setiap anak dalam kelompok dibagikan sebuah teks dongeng rakyat dengan judul “Baru Kelinthing”.
  • Siswa diberi waktu 15 menit untuk menuntaskan bacaannya.
  • Langkah selanjutnya, permainan diawali dengan guru membagikan dadu kepada setiap kelompok, dengan tiap nomor dadu berisi jenis pertanyaan yang berbeda.
  • Jika dadu menyampaikan angka 1, maka kelompok harus menyusun pertanyaan dengan awal kata “apa”, angka 2 dengan kata “siapa”. Angka 3 dengan kata “di mana”, angka 4 dengan kata “kapan”, angka 5 dengan kata “mengapa”, dan angka 6 dengan kata “bagaimana”.
  • Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk melempar dadu sebanyak 4 kali.
  • Pertanyaan-pertanyaan harus disusun menurut bacaan yang sudah dibaca, lalu dilempar kepada siswa dalam kelompok lain.
  • Guru di sini berfungsi memperkuat tanggapan yang dikemukakan siswa.
  • Setelah siswa menjawab pertanyaan dan benar, selanjutnya siswa menulis soal dan tanggapan pada selembar kertas yang sudah dibuat buah-buahan.
  • Sebagai langkah selesai siswa memajangnya pada pohon literasi.

Baca juga: Majalah Dinding Sarana Menumbuhkan Budaya Literasi

Bu Yulia menyampaikan metode pembelajaran dengan memakai dadu dan memajang alhasil pada pohon literasi, membuat siswa bermain sambil belajar. Kemampuan siswa membuat kalimat pertanyaan semakin tarasah. Selain itu menyebabkan siswa aktif dan kreatif dalam menyusun kalimat pertanyaan, pembelajaran membaca dan menulis pun menjadi menyenangkan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel