Putra Ketua MA Belajar Dari Kecelakaan, Inilah Tipsnya

Pada Rabu, 19 Juni 2019 waktu setempat, Muhammad Irfan sebagai Putra Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali, alami kecalakaan tunggal hingga meninggal dengan memakai kendaraan motor di Namibia, Afrika.

Belum diketahui pasti penyebab yang merenggut nyawa Irfan. Namun berdasarkan keterangan Kepala Biro Hukum dan Humas MA Abdullah, Irfan meninggal akibat terlambat mendapat penanganan medis pasca kecelakaan.

Belajar dari kecelakaan yang dialami Irfan, mengendarai motor besar atau 'moge' di negeri orang bukan hal yang bisa dianggap enteng. Pengendara tidak hanya dituntut menguasai 'kuda besi', tetapi perilaku berkendara yang baik.

Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu menjelaskan penunggang moge rata-rata sudah menguasai teknis dasar berkendara. Penguasaan mereka terhadap tunggangannya bisa dibilang sudah di luar kepala.



Namun, hal tersebut juga harus diimbangi dengan pemahaman budaya berkendara di negeri lain, atau negara tempat kita mengendarai motor. Ini bertujuan untuk mencegah kecelakaan yang melibatkan anggota rombongan touring.

"Yang perlu ditambahkan saat masuk daerah tertentu atau daerah baru mereka harus paham budaya berkendara di sana," kata Jusri saat dihubungi CNNIndonesia melalui saluran telepon, Kamis (20/6).

Setiap peserta touring, lanjut Jusri harus menyesuaikan budaya berkendara di daerah orang. Bisa saja di daerah atau negara lain masyarakat setempatnya punya tingkat kedisiplinan yang tinggi atau sebaliknya.

"Bagaimana etika (berkendara) di sana. Kalau peraturan ya sama. Karena banyak kawan kami meninggal akibat kecelakaan begitu," ucap Jusri.
Jusri memberi contoh cara berkendara di Indonesia. Ia mengatakan peraturan lalu lintas berlaku nasional, namun budaya berkendara di setiap daerah punya perbedaan. Ada beberapa hal yang perlu kita cermati dan sesuaikan.

"Di Indonesia saja banyak budaya berkendara, misalnya di Jakarta ada perempatan tapi ingin lurus tidak perlu hazard, tapi di daerah lain ada yang ingin gunakan hazard. Lalu ada juga penggunaan sein bukan berarti mereka ingin belok, tapi memberi isyarat tidak boleh menyalip, dan banyak lagi," ucap Jusri.

Selain budaya berkendara, rombongan touring juga harus dapat membaca cuaca. Pengendara harus mempersiapkan banyak rencana saat menghadapi cuaca tidak bersahabat saat melintas di negeri orang.

"Seperti di Amerika Latin ada daerah yang kecepatan angin sampingnya cukup panjang. Ini mengemudi harus tahu. Plan (rencana) karena itu persiapan kita harus tahu kondisi cuacanya. Harus menguasai antisipasi safety driving bukan cuma teknik, tapi antisipasi ancaman bahaya dari eksternal atau internal," pungkas Jusri.
"Untuk masalah internal itu terjadi karena keletihan atau stress, misalnya ada konflik dalam grup. Ini harus disikapi. Jadi tidak melulu teknik. Kalau teknik bagaimana mengerem dan semacamnya," ujar dia menambahkan.

Rombongan touring, dijelaskan Jusri juga harus benar-benar mempelajari rute yang akan dilalui. Ini dibutuhkan untuk mengetahui titik pasti ketersediaan stasiun pengisian bahan bakar, hingga posisi rumah sakit.

Jusri menambahkan antisipasi lainnya peserta touring jarak jauh juga perlu mempelajari kondisi lingkungan, kontur jalan, dan lainnya.

"Memahami juga kondisi lingkungan termasuk treknya seperti apa, apa di sana jalurnya kaya pasir atau gravel sehingga nanti itu kita tidak kaget. Jika jalanan pasir terus ada badai pasir harus siap tanggap darurat, misalnya rombongan semua berhenti atau bagaimana. Semua harus disiapkan," tutup Jusri.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel