Faktor Resiko Dan Intervensi Pencegahan Jatuh Pada Pasien Lansia

Lansia Memang sangat rentan terjatuh, Banyak sekali faktor penyebabnya yang berperan didalam nya baik faktor intrinsik maupun ekstrinsik. Sehingga sangat penting sekali untuk mengkaji resiko jatuh dan juga mencegah pasien lansia terjatuh.

Faktor resiko jatuh pada lansia secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu faktor intrinsik (diri pasien) dan ekstrinsik (lingkungan). Kedua faktor ini memegang peranan yang sama untuk mendukung terjadi nya jatuh pada lansia.

 Banyak sekali faktor penyebabnya yang berperan didalam nya baik faktor intrinsik maupun e Faktor Resiko Dan Intervensi Pencegahan Jatuh Pada Pasien Lansia
Faktor Resiko jatuh lansia

Faktor Intrinsik penyebab resiko jatuh lansia.

Faktor instrinsik adalah variabel-variabel yang menentukan mengapa seseorang dapat jatuh pada waktu tertentu dan orang lain dalam kondisi yang sama mungkin tidak jatuh (Gardner, 2000). Faktor intrinsik tersebut antara lain adalah gangguan muskuloskeletal yang menyebabkan gangguan gaya berjalan, kelemahan ekstremitas bawah, kekakuan sendi, sinkope yaitu kehilangan kesadaran secara tiba-tiba yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke otak dengan gejala lemah, penglihatan gelap, keringat dingin, pucat dan pusing.

Faktor Ekstrinsik penyebab resiko jatuh lansia

Faktor ekstrinsik merupakan faktor dari luar (lingkungan sekitarnya) diantaranya cahaya ruangan yang kurang terang, lantai yang licin, tersandung benda-benda. Faktor-faktor ekstrinsik tersebut antara lain lingkungan yang tidak mendukung meliputi cahaya ruangan yang kurang terang, lantai yang licin, tempat berpegangan yang tidak kuat, tidak stabil, atau tergeletak di bawah, tempat tidur atau WC yang rendah atau jongkok, obat-obatan yang diminum dan alat-alat bantu berjalan (Darmojo, 2009).

Perubahan Pada lansia Penyebab resiko jatuh

Perubahan yang terjadi pada lansia juga merupakan faktor pencetus resiko jatuh pada lansia yang juga tidak bisa diabaikan dan juga termasuk ke dalam faktor intrinsik meliputi.

a. Sistem sensorik

Sistem sensorik yang berperan di dalamnya adalah: visus, pendengaran, fungsi vestibuler, dan proprioseptif. Dan biasanya pada lansia sistem sensorik akan mengalami penurunan fungsi. Sehinggan Vertigo tipe perifer sering terjadi pada lanjut usia, diduga karena perubahan fungsi vestibuler akibat proses menua. Sehingga menjadi faktor resiko pasien lansia jatuh

b. Sistem saraf pusat (SSP)

SSP akan memberikan respon motorik untuk mengantisipasi input sensorik. Penyakit SSP seperti stroke, parkinson, hidrosefalus dengan tekanan normal, yang diderita oleh lanjut usia akan menyebabkan gangguan fungsi SSP sehingga berespon tidak baik terhadap input sensorik.

c. Kognitif

Pada beberapa penelitian, demensia diasosiasikan dengan meningkatnya risiko
jatuh.

d. Muskuloskeletal

Faktor ini disebutkan oleh beberapa peneliti merupakan faktor yang spesifik milik lanjut usia, dan berperan besar terhadap terjadinya jatuh. Gangguan muskuloskeletal menyebabkan gangguan gaya berjalan dan ini berhubungan dengan proses menua yang fisiologis.

Gangguan gaya berjalan yang terjadi akibat proses menua tersebut antara lain di sebabkan oleh:
  • Kekakuan jaringan penghubung.
  • Berkurangnya massa otot.
  • Perlambatan konduksi saraf.
  • Penurunan visus/lapang padang.
  • Kerusakan proprioseptif.
yang semuanya menyebabkan:
  • Penurunan range of motion (ROM) sendi.
  • Penurunan kekuatan otot, terutama kelemahan ekstremitas bawah.
  • Perpanjangan waktu reaksi otot/refleks.
  • Kerusakan persepsi dalam.
  • Peningkatan postural sway (goyangan badan).
Semua perubahan tersebut mengakibatkan kelambanan gerak, langkah yang pendek, penurunan irama dan pelebaran langkah kaki, sehingga tidak dapat menapak dengan kuat dan lebih gampang goyah. Perlambatan reaksi mengakibatkan seseorang susah/terlambat mengantisipasi bila terjadi gangguan seperti terpeleset, tersandung atau kejadian mendadak, sehingga memudahkan jatuh.

Faktor penyebab pasien lansia jatuh

  • Salah memperkirakan jarak dari tempat tidur ke lantai.
  • Merasa lemah atau pusing pada saat mencoba untuk bangun.
  • Merubah posisi terlalu cepat dan kehilangan keseimbangan ketika mencoba untuk bangun dari kursi. Hal ini umum terjadi khususnya padapasien lanjut usia.
  • Tidak mengenal lingkungan sekelilingnya.
  • Meminum obat yang membuat kesadaran mereka terhadap lingkungan berkurang.
  • Berada di tempat gelap
  • Gangguan status mentalh.Gangguan mobilitasi.Riwayat jatuh sebelumnyaj.Obat-obatan (sedatif dan penenang, obat-obatan yang berlebihan)
  • Berkebutuhan khusus dalam haltoiletingl.
  • Usia lanjut

Intervensi Perawat pencegahan resiko jatuh

Adapun intervensi yang dapat diberikan perawat untuk mencegah pasien lansia jatuh ialah sebagai berikut.
  • Selalu meninggalkan tempat tidur dengan posisi horizontal terendah (untuk tempat tidur dengan ketinggian yang bisa diubah-ubah) ketikaperawat sudah selesai memberikan asuhan.
  • Memasang penghalang tempat tidur dan memeriksa keamanannya.
  • Memeriksa dan menyesuaikan obyek-obyek yang menonjol seperti rodatempat tidur.
  • Membersihkan dan memindahkan alat-alat yang tidak dibutuhkan lagi.
  • Menganjurkan untuk menggunakan pegangan sepanjang dinding koridor pada saat berjalan.
  • Mengobservasi pasien ambulasi dengan baik akan adanya tanda-tanda kelemahan atau gaya berjalan yang tidak stabil (penilaian skala jatuh lansia)
  • Memasang gelang resiko jatuh
  • Memastikan bahwa ada cukup cahaya, terutama di waktu senja dan malam hari.
Demikian penjelasan tentang faktor resiko dan intervensi pencegahan jatuh pada pasien lansia yang bisa kami berikan. Perlu diingat juga pencegahan resiko jatuh pada lansia membutuhkan dukungan dari keluarga, sehingga petugas komunikasi petugas kesehatan, pasien dan keluarga merupakan elemen penting dalam pencegahan resiko jatuh pada lansia atau geriatri.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel